Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

BELUM TENTU SAHABAT...

Thursday, September 4, 2008

Oleh Meidoasa Mariastina

Di dunia ini manusia tidak boleh sombong apalagi lupa kepada kawan sendiri. Ada orang yang bilang bahwa sahabat sejati itu ada. Tapi menurutku, sahabat sejati tidak akan bertahan lama. Mereka hanya mengingat kita saat sedang membutuhkan bantuan. Apa itu dinamakan sahabat sejati?

Sedekat apa pun hubungan sahabat akan punah pula kalau tidak dijaga. Oleh sebab itu, aku tak percaya kalau sahabat sejati itu ada. Tapi, itu hanya pendapatku. Kalian boleh menyangkalnya atau sependapat denganku.

Namaku Alma. Sekarang aku duduk di kelas 2 SMU. Aku mempunyai banyak teman. Saat duduk di bangku sekolah dasar, aku pernah mempunyai teman dekat. Namanya Sylvana.

Kemana pun kami selalu berdua. Bahkan, kami dibilang kembar karena dandanan kami selalu mirip. Yang membuat beda adalah kebiasaan kami. Sylvana suka merangkai bunga, sedangkan aku lebih senang membaca novel atau komik.

Selain Sylvana, aku mempunyai teman dekat lain waktu SMP. Namanya
Rani. Rani anak cerdas. Dia sering mengikuti lomba cerdas cermat dan selalu memenangi setiap pertandingan. Kadang, punya teman seperti dia membuatku iri dan tidak nyaman karena selalu merasa tersaingi.

Walaupun begitu, aku senang punya teman seperti Rani karena dia mempunyai hobi yang sama denganku, yaitu membaca komik. Tokoh favorit kami adalah Inuyasha. Dulu, kami pernah membuat komik bersama. Tapi, karena setelah lulus SMP kami beda sekolah, akhirnya komik itu tidak terselesaikan sampai sekarang.

Kulihat kalender yang terpajang di tembok kamarku. Hari ini tanggal 6 Juli, tepat ulang tahun Sylvana. Kucoba mengirim ucapan selamat ulang tahun melalui SMS.

To: Sylvana

Happy birthday Sylvana... semoga dg bertambahnya usiamu, kmu dpt menggunakan dg lbh baik. Kutunggu traktirannya ya...

Kurasa itu dapat mewakili diriku walaupun aku tak bertemu dengannya.

Lima menit kemudian, balasan Sylvana datang juga.

Sender: Sylvana

Thx ucapannya. Tp klo boleh tau, ini no hape siapa yach? Blz.

Seketika aku langsung terperanjat setelah membaca SMS dari Sylvana. Tak kusangka, nomor HP-ku telah dihapus dari kontak HP-nya. Sedih bercampur kecewa, aku membalas SMS itu.

To: Sylvana

Kasian bgt ya aq? Ya udh gpp. Yg pntg aq udah mengucapkan slmt untukmu.

Sender: Sylvana

P1izz... siapa sih km? Ya maaf deh kalo aq lupa, soalnya no kmu nggak ada di hpku. Blz.

To: Sylvana

Namaku "Cantik". He...9x. Udahlah, nggak pntg kok. Good bye...

Berakhir sudah SMS singkat dengan Sylvana. Aku sangat kecewa, sedih, bercampur jengkel. Padahal, baru enam bulan kemarin kami bertemu saat ulang tahun Lena. Kami saling bertukar nomor HP. Dia masih mengingatku waktu itu.

Tapi sekarang, aku sangat kecewa dengannya. Lebih kecewa karena hal itu bukan hanya terjadi dengan Sylvana, tapi juga Rani. Sejak masuk SMU ternama, dia semakin sombong dan berlagak tidak mengenal saat berpapasan denganku. Sejak saat itu pula, aku tidak pernah percaya tentang sahabat sejati.

Tiga hari kemudian, pekan raya sekolah dimulai. Aku sangat sibuk. Sebagai panitia, aku harus menyiapkan segala perlengkapan. Acara tersebut rutin diadakan setiap tahun dan selalu menarik perhatian dari luar kota. Tiba-tiba, seseorang menepukku dari belakang.

"Hai Alin...!" sapa seseorang. Aku menoleh.

"Hhhaiii...!" jawabku dengan canggung.

"Kok bengong? Kamu udah lupa ya sama aku?"

"Hm...siapa ya?" aku tambah melongo.

"Aduh, wajahku udah berubah banget ya?" Aku masih tidak tahu dan penasaran dengan cewek yang berdiri di depanku itu. Rambutnya pendek menyerupai anak laki-laki. Tapi, dia masih terlihat cantik.

"Aku Irene. Yang dulu selalu usil ke kamu sampai-sampai dimarahi guru BK. Masak kamu lupa?"

"Iren...?!" aku benar-benar tidak menyangka.

"Yup! Gimana kabarmu?"

Akhirnya kami terlibat percakapan panjang. Tak kusangka Irene yang dulu sangat kubenci kini masih mengingatku. Irene teman SMP-ku. Aku sedikit terhibur setelah bertemu dengan Irene. Peristiwa tiga hari lalu membuatku sadar tentang arti dan sahabat.

Kupikir, nggak selamanya yang baik menurut kita akan menjadi baik selamanya. Nggak selamanya pula, yang jelek menurut kita akan jelek selamanya. Begitu pula sahabat. Kita boleh percaya sahabat sejati itu ada atau hanya imajinasi orang.

Tapi yang jelas, sahabat sejati yang paling nyata adalah jiwa dan tubuh kita yang selalu setia menemani kita ke mana pun kita pergi, bahkan sampai maut menjemput kita. Sebab, nggak ada orang lain yang sanggup melakukan itu kecuali diri kita sendiri. Maka, jadilah sahabat yang baik dan sejati bagi diri kita masing-masing.

Penulis adalah siswi SMAN 5 Madiun.


Continue Reading...

Balada Sebuah Tugas Statistik

Oleh Retno Wi

Brakk!!...

Pintu terbuka dengan keras. Sepi. Tak ada siapa-siapa di dalam. Pasti, sebab, penghuni lain sibuk dengan aktivitas di tempat kerja masing-masing. Termasuk dia, kalau saja dia tidak teringat satu hal. Sungguh dia menyesal kenapa tidak menuruti nasihat orang-orang di sekitarnya. Ah, seandainya aku memasang alarm di ponselku. Seandainya aku menuliskan di papan. Seandainya aku...

Oh, mengapa aku mesti menjadi orang pelupa? Bukankah aku masih muda? Apa memang memori otakku terbatas? Aku ingat, otak punya memori yang sangat besar. Setidaknya, aku masih ingat beberapa hal yang aku lakukan di waktu kecil. Artinya, aku masih mampu merekam dengan baik kejadian 15 tahun lalu. Bukankah itu hebat. Tapi, mengapa aku lupa dengan semua tugas yang baru diberikan seminggu lalu? Orang bilang semua itu karena keteledoranku. Benarkah aku teledor?

Brak!!...

Nasib pintu kamar pun tak berbeda dengan pintu ruang depan. Terbuka dengan dorongan keras dan kasar, membuyarkan dialog yang berlangsung antara otak dan hatinya. Dengan napas memburu, tangannya mengobrak-abrik meja kayu penuh tumpukan kertas dan buku. Dia tak peduli dengan buku dan kertas yang barjatuhan akibat ulah kasarnya. Sesekali, matanya melirik jam di dinding kamar. Detik-detiknya terus berjalan, berputar mendorong menit demi menit terlewati. Detak jantungnya seolah ingin mengejar setiap detik yang terlewat cepat. Setiap detik yang selalu menambahkan butiran keringat di dahinya.

"Ah...! Akhirnya ketemu juga." Desisnya sedikit lega. Sedikit, sebab, waktu yang dimiliki tidak banyak. Disekanya keringat yang semakin berkilat di kening untuk mengurangi kegugupan yang terlalu lama menemani. Dipandanginya tulisan di kertas yang sedang dipegangnya. Terbayang di kertas itu seorang dosen killer berkumis lebat dengan sorot mata tajam ingin menelannya bulat-bulat. Siapa yang mau berurusan dengan dia lagi? Mengumpulkan tugas tepat waktu saja masih mendapat omelan dan sanksi kalau penulisannya tidak sesuai dengan keinginannya. Apalagi kalau telat mengumpulkan? Dan, aku? Dani mencoba mengingat-ingat. Selalu telat mengumpulkan tugas. Alsannya pun bisa ditebak oleh semua orang. LUPA!

"Oh, Tuhan!" dia menepuk jidat dengan keras. Dia segera tersadar dengan masalah yang menerornya. "Bukankah semua jawaban ini ada di buku Statistika. Dan, bukuku... di mana bukuku??"

Dia empaskan pantatnya di kasur. Kedua tangan pucat itu meremas-remas rambutnya dengan kuat. "Sialan si Roni!" kutuknya kesal. Dengan gusar dia menekan keypad ponsel. Mulutnya mengerucut, dahinya berkerut. Mendengarkan nada ponsel yang hanya berbunyi tut..tut..., Dicobanya sekali lagi.

Tuu...ut. Tuu..ut. Tuu..ut. "Halo!? Eh, Dani. Ke mana pula kau, kok nggak nongol di kampus? Kita lagi..." Tak sempat suara di sebrang meneruskan kalimatnya.

"Heh! Mana buku statistiknya! Pinjem buku jangan ngawur dong! Masak yang punya belum ngerjain tugas, masih belom dibalikin. Aku tunggu di rumah sekarang! Bawa buku statistik itu!"

"Hei..! Hei..! Kapan pula aku pinjam bukumu, hah?! Melihatnya pun aku tak pernah!"

"Kapan kau bilang? Siapa yang merengek-rengek minggu lalu setelah kuliah statistik berakhir? Siapa? Emang kucing?!"

"Benar-benar payah kau Dan! Rupanya, kau semakin tua hingga penyakit lupamu kian parah. Ingat-ingatlah yang bener! Atau, jangan-jangan sudah saatnya kau masuk RSJ, biar sembuh. Ha ha ha... !" Klik! Sambungan diputus.

Dani memandingi ponselnya kesal. Dipencetnya sekali lagi nomor Roni.

Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang... Klik! Ponsel terlempar di atas bantal. Dia rebahkan badannya. Hatinya melemparkan ratusan kutukan untuk Roni. Dani duduk di tepi dipan. Menatap meja belajarnya yang tak pernah rapi. Kertas-kertas berserakan memenuhi meja. Buku-buku tak lagi berdiri tegak karena buku di bagian tengah deretan diambil Dani. Dia pun membiarkan buku-buku di sebelahnya ambruk. Sebagian buku itu tampak hampir tidur tertumpuk buku lain di sebelah kirinya. Pasti buku yang seharusnya mengisi dan menyangga buku di sebelah kiri sangat tebal. Oh! Bukankah buku paling tebal miliknya hanya satu! Ya, hanya satu! Dan....

Aha...! Aku ingat sekarang. Aku baru mengambilnya dua hari lalu. Yaitu, ketika akan mengerjakan tugas, namun gagal karena diminta Ayah untuk menemani ibu belanja. Lalu... Lalu... Aaahh! Kepalan tangannya meninju telapak tangan kiri dengan gemas.

Dani mencoba mengingat siluet kejadian demi kejadian. Buntu! Dia lupa di mana meletakkan buku statistiknya. Kembali dia menatap jam dinding. Tak ada pilihan. Aku harus mengerjakannya sekarang meski tanpa buku statistik itu.

Dengan gontai dia menuju meja belajar. Sedikit malas, tangannya mengumpulkan kertas yang memenuhi meja. Kertas-kertas terkumpul dan dipindahkan ke lantai pojok kamar. Dipandanginya meja yang kini bebas dari kertas. Ada perasaan nyaman. Namun, ada sesuatu yang dirasa masih kurang. Yah, mejanya belum bersih benar. Ada beberapa kertas yang terjepit antara tepi meja dengan dinding. Dani mencoba menarik beberapa kertas. Tapi, terasa sangat sulit. Dani menarik meja agar menjauh dari tembok.

Brak!!.. Sebuah benda terjatuh dengan berat. Kepala Dani melongok ke bawah meja. "Yess!!.. akhirnya kutemukan buruanku."

****

Suasana kampus agak lengang dari biasanya. Begitu juga kantin. Dani menyeruput juice avokad yang menjadi kesukaan. Tak banyak anak berkeliaran. Ditatapnya jam yang tergantung di dinding kantin. Masih ada seperempat jam untuk menyegarkan hari dengan segelas juice dan semilir angin yang menerobos kantin pelan-pelan.

"Di sini rupanya kau, Dan." Sebuah tepukan keras dirasakan pundak kanan Dani. Sebenarnya tanpa menoleh pun, Dani tahu siap yang sedang berbicara. Siapa tak kenal logat batak yang medok itu?

"Lo sendiri?"

"Bah! Aku? Tentulah aku mau pulang. Buat apa panas-panas begini berlama-lama di kampus?"

Mulut Dani melepas sedotannya perlahan.

"Pulang?"

Laki- laki di depannya mengangguk mantap.

"Trus, tugas statitiskmu?"

"Tugas statistik?" Roni berpikir sejenak. Tak lama kemudian, meledaklah tawanya.

"Ha...ha...haaa..." Buru-buru mulutnya bungkam ketika beberapa pasang mata menatapnya. Atau, lebih tepat melotot ke arahnya.

"Dan...Dan... tahulah aku sekarang kenapa tak masuk kuliah kau tadi. Itu juga yang membuatmu marah-marah padaku, kan?" Roni mendekatkan wajahnya yang penuh jerawat batu ke wajah Dani. Kemudian, punggung tangannya ditempelkan ke kening Dani.

"Hmm... Rupanya, kau benar-benar harus ke RSJ," ucapnya pelan. "Ingatanmu semakin payah."

"Eh, apa-apaan lo? Aku bicara soal statistik, bukan masalah penyakit lupaku! Dasar bloon!"

"Ya, ya. Kau tunggu saja sampai mabok, takkan pernah Pak Naryo datang menemuimu."

"Maksudnya?"

"Karena memang tugas statistik itu baru dikumpulkan minggu depan. Karena hari ini Pak Naryo masih di luar negeri. Bukankah itu yang disampaikan sebelum kuliah statistik berakhir minggu lalu. Begitu mudahnya kau melupakan itu teman?"

"Jadi?"

"Jadi, sebaiknya pergilah kau segera ke dokter jiwa. Ha...haa.. ha.."

Roni pun berlalu meninggalkan Dani bersama juice avokadnya. (*)

Penulis adalah pelajar Unair
Continue Reading...

Hasan sang Pria Perkasa

Oleh Agnesthina Arut

Alkisah hiduplah seorang cowok macho bernama Hasan. Dia dianugerahi fisik yang sempurna oleh Tuhan. Tinggi sekitar 181 cm, badan atletis serta dibalut otot-otot yang membentuk peta Indonesia. Cewek mana yang nggak kesengsem kepada cowok model begini.

Termasuk Vero. Wanita yang sudah setahun ini menemani Hasan baik suka maupun duka. Siang itu Hasan berkunjung ke rumah Vero dengan harapan bisa makan siang di rumah kekasihnya itu. Maklum, Hasan adalah anak kos yang uang makannya selalu dijatah sama ortunya.

Begitu sampai di rumah Vero, tanpa babibu langsung aja Hasan meluncur ke dalam rumah. Tak ubahnya anjing pelacak, cukup sekali jalan dia sudah tahu di mana letak dapur. "Halo cinta, lagi masak apa nih?" Hasan menyapa Vero yang sedang menyiapkan makan siang. "Kamu ini mesti, ke sini kalo pas laper aja," ketus Vero. "He he".

"Ya udah ini udah aku siapin bayem. Tapi, entar kalo udah selesai maemnya bisa minta tolong nggak?"

"Iya iya tapi entar aja ngomongnya ya. Abang udah nggak nahan lapernya. He he," jawab Hasan.

"Ya udah, aku tunggu di ruang depan ya."

**********

"Minta tolong apa?" Hasan mengagetkan Vero yang sedang bersantai di ruang tamu.

"Hmm, kamu sayang nggak ama aku?"

"Kamu apaan sih kok pake tanya kayak gitu."

"Sebagai bukti kalo kamu sayang sama aku, berarti mau dong aku minta tolong kamu belikan sesuatu?"

"Selama secara finansial mampu, apa pun aku belikan buat kamu," ucap Hasan mantap.

"Yaelah, nggak butuh uang banyak kok. Cuma minta tolong belikan pembalut di mini market seberang jalan. Aku kan lagi dapet sekarang," Vero mengangkat tangan dan menunjukkan tanda kutip.

Dhuarr. Pecah sudah segala keperkasaan Hasan. Dia merasa seperti seorang penderita stroke yang diajak maraton. Seumur hidup berbagai bahaya telah dia lewati. Kecuali satu hal, membeli perabotan cewek yang berjudul pembalut. Buat Hasan, lebih baik duel melawan macan daripada harus membeli sebuah benda yang dia anggap sebagai barang haram.

"Kamu sayang nggak ama aku?" Vero memecah lamunan Hasan.

"Ya sayang sih sayang. Tapi, apa nggak ada cara lain biar kamu tahu kalo aku sayang ama kamu,"

Vero tersenyum tipis. "Nggak ada."

"Baiklah, demi pembuktian cintaku. Apa pun bakal kulakukan," kata Hasan mantap.

"Yes! Semangat ya say. Oya, di dalem mini market raknya yang paling ujung ya. Jangan kesasar."

Layaknya seorang prajurit yang akan maju ke medan perang. Langkah Hasan terasa berat. Sayup-sayup terdengar lagu Gaby yang penuh misteri.

Hanya membutuhkan waktu 10 menit, sekarang Hasan sudah berdiri tepat di pintu masuk mini market. Terdiam sesaat, mulutnya komat-kamit seraya berdoa. "Pasti bisa!" ucapnya berkali-kali dalam hati. Jantungnya berdegup kencang ketika dia memasuki mini market.

Di dalam tampak lengang. Hanya tiga orang pria paro baya yang berbelanja hari itu. "Di dalem mini market raknya yang paling ujung ya," pikiran Hasan kembali terngiang oleh ucapan Vero. Secara perlahan Hasan berjalan menyusuri rak demi rak untuk mencapai yang paling ujung.

Dia mempercepat jalannya. Dua langkah lagi, dan... Dhieeng! Oh my God! Terlihat

lima orang cewek yang berdiri pas di rak bagian onderdil alat-alat kewanitaan. Hasan mengurungkan niatnya untuk sementara. Sebagai kamuflase, dia langsung menyambar barang yang ada di depannya. Sayup-sayup terdengar obrolan yang tak dimengerti pria seperti Hasan.

"Nggak enak ah, pake yang ini. Rambutku ketarik-tarik" wanita pertama menyela.

"Ah masak?" timpal wanita kedua dan ketiga.

"Iya, rambut-rambutku sempat rontok gitu. Mana kekecilan lagi. Jadinya, rambut-rambut tipisnya keluar-keluar gitu," wanita pertama menambahkan.

"Aku sih make yang ini nyaman banget. Pas waktu basah, bagian dalemnya terlindungi gitu," ucap wanita keempat.

"Iya sama. Pertama sih aku nggak percaya, tapi setelah aku sentuh bagian dalemnya kering loh. Nyaman deh pokoknya," wanita kelima mengiyakan ucapan wanita keempat. "Hah! Apa yang mereka bicarain?" ucap Hasan dalam hati.

"Ya, emang sih pas mandi make pelindung rambut yang ini, rambut nggak basah-basah banget," ucap wanita pertama yang mempertegas teman-temannya.

"Yaelah, aku pikir apaan," gumam Hasan.

"Ehm. Nak Hasan!"

Hasan kaget bukan main oleh suara yang menggelegar itu. "Ya Allah, Nak Hasan, istighfar. Perbuatan seperti itu dosa besar hukumnya," ucap seorang pria paro baya beserban yang berdiri di sebelahnya.

"Eh, Pak Haji," sapa Hasan.

"Kamu ini masih muda. Jalanmu masih panjang, jangan kamu rusak dengan hal yang tidak diizinkan oleh Tuhan."

"Apa maksud Pak Haji?" Hasan kebingungan.

"Dasar anak muda zaman sekarang. Cepat kamu taruh lagi kondom yang kamu pegang itu!"

OMG, ternyata secara tak sadar benda yang dipegangnya dari tadi adalah satu pak kondom. "Oh, ini salah paham Pak Haji," ujar Hasan.

"Udah nggak usah pake alasan, nanti malem kamu wajib ke rumah Bapak. Ada pengajian yang wajib kamu hadiri," tegas Pak Haji.

"Iya Pak," sahut Hasan lirih. "Ya udah Bapak pulang duluan," Pak Haji langsung meninggalkan Hasan bengong sendirian.

Apes bener hari ini, pikir Hasan. Hasan menoleh ke arah tempat para gadis tadi, dan.. Yes akhirnya rak bagian perabotan wanita kosong juga. Nggak ingin kehilangan momen, Hasan langsung aja menyambar satu bungkus pembalut yang kemasannya berwarna pink.

Setelah yakin dengan yang dia pegang, dengan segera kekasih Vero ini berjalan secepat mungkin ke arah kasir. Sepanjang perjalanan menuju kasir, Hasan tertunduk malu. Berharap tidak seorang pun tahu apa yang sedang dia pegang saat ini. Sesampainya di kasir, dia dikagetkan oleh suara penjaga kasir yang tidak jelas.

"Selamat pagi!"

"Nada bicara ini, suara cowok yang dicewek-cewekkan. Jangan-jangan." Dan, ternyata benar, sang kasir adalah seorang transgender. Cowok yang seneng dandan bak seorang cewek.

"Lagi belanja apa, Mas?" ucap sang kasir dengan nada yang aneh.

"Eh... ah... bukan apa-apa," Hasan gugup.

"Oh... beli kayak ginian toh. Buat pacarnya, Mas."

"Bukan, itu, anu..."

"Hmm, tenang aja gak papa kok. Aku juga sering pake ginian kok, Mas," ucap sang kasir genit sambil mengedipkan matanya genit. Hasan terdiam tak bergerak. "Semua dua belas ribu lima ratus," sang kasir sekarang menjulur-julurkan lidahnya.

Hasan berusaha tidak melihat apa yang ada di depannya sekarang sambil mengluarkan uang dua puluh ribuan. "Ini kembaliannya. Makasih ya, Mas," tangan Hasan dibelai perlahan. Uang kembalian sudah di tangan, Hasan pun langsung lari sekuat tenaga.

Begitu keluar dari mini market, Hasan merasa terbebas dari segala kecemasannya dan berteriak layaknya pejuang pulang dari medan perang. "Vero cintaku, abang berhasil!!"

Penulis adalah pelajar Univ. Satya Widya

Continue Reading...